Kabar Penasaran - Tenaga Kerja Indonesia atau yang lebih dikenal dengan istilah TKI, akhir-akhir ini santer dibicarakan. Belum berlalu kabar hukuman mati, pembunuhan majikan, kini media diramaikan dengan kabar demo di KBRI Saudi Arabia. Akan tetapi yang beragam masalah bermacam-macam peristiwa yang terjadi justru kenyataan banyak TKI yang justru betah bahkan banyak yang masih berdatangan mengadu nasib di sana. Kenapa?
Berikut penjelasannya! Overstay atau kelebihan masa tinggal yang di alami oleh TKI di beberapa negara yang menjadi target utama kebanyakan TKI, seperti Arab Saudi rata-rata terkait dengan dokumen yang telah habis masa aktifnya atau kadaluarsa. Di samping itu pula, ulah agen (calo) tenaga kerja baik yang berstatus legal maupun ilegal, yang pinter memutar rayu para TKI yang memungkinkan mereka betah. Misalnya dengan menawarkan tempat yang menjanjikan gaji bengkak dari sebelumnya. Adapula yang mengajak mereka langsung ke rumah majikan elite sehingga image para TKI memuaskan bekerja di tempat tersebut.
Hal ini sesuai dengan penuturan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nova Riyanti Yusuf kepada salah satu media. Beliau menuturkan. "Penyebab overstay TKI bermacam-macam,"
Beliau menceritakan pengalaman pribadinya. pada saat berkunjung ke konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah, Arab Saudi. Ketika itu ada 19 ribu TKI yang mengalami overstay dengan sebab berbagai macam. Mulai dari masalah dokumen yang kadaluarsa, TKI ilegal hingga WNI yang berniat umrah namun memutuskan untuk langsung bekerja di sana.
Beliau melanjutkan, "Ilegal itu karena berangkatnya bukan sebagai TKI. Bisa sebagai orang biasa tanpa izin kerja. Perekrutan TKI ilegal dilakukan dengan beragam modus. Misalnya, ada agen TKI ilegal yang merekrut remaja kampung saat orang tuanya sedang pergi ke luar kota. Oleh si agen TKI gadungan, remaja itu dibawa ke Jakarta untuk dibuatkan paspor. Setelah itu dikirim ke Malaysia melalui pelabuhan."
Sebernarnya tidak hanya kepengurusan dokumen yang menjadi penyebab Overstay tidak hanya di Arab Saudi, tetapi juga di negara-negara target para TKI. Masalah lainnya adalah kurangnya pengawasan dari pemerintah Republik Indonesia yang dalam hal ini Kemenakertrans.
Nova menghimbau kepada pemerintah terkait tenaga kerja Indonesia yang hendak diberangkatkan, agar lebih aktif mengedukasi masyarakat yang berusia produktif. Masyarakat harus diberikan opsi-opsi pekerjaan di luar TKI. Caranya dengan memberikan pelatihan wiraswasta yang bekerja sama dengan Kementerian Koperasi dan UKM.
Jadi tidak ada alasan pemerintah untuk mengelak kenapa hal seperti ini dapat terjadi dan menimpa TKI yang bekerja ke luar negeri khususnya di Arab Saudi.

0 komentar:
Post a Comment